Jadilah Kunci-Kunci Kebaikan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
Web ini menggunakan hosting gratis dan elementor gratis dari JagoanHosting
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup keburukan, dan di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci keburukan dan penutup-penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui kedua tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan melalui kedua tangannya.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadits ini menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan.
Ada orang yang kehadirannya membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang lain. Namun ada pula orang yang justru menjadi sebab terbukanya pintu-pintu keburukan.
Orang yang menjadi kunci kebaikan adalah mereka yang ketika berada di suatu tempat, kebaikan semakin hidup, amal saleh semakin banyak, dan manusia semakin dekat kepada Allah. Sebaliknya, orang yang menjadi kunci keburukan adalah mereka yang menyebarkan kerusakan, maksiat, dan menjauhkan manusia dari ketaatan.
Lalu bagaimana agar seseorang dapat menjadi kunci kebaikan dan penutup keburukan?
1. Ikhlas kepada Allah dalam ucapan dan perbuatan
Keikhlasan merupakan fondasi dari setiap kebaikan dan sumber dari segala keutamaan. Amal yang dilakukan semata-mata karena Allah akan diberkahi dan membawa kebaikan yang besar.
2. Memperbanyak doa kepada Allah
Seorang hamba hendaknya bersungguh-sungguh berdoa agar Allah menjadikannya sebagai pembuka kebaikan. Doa adalah kunci dari setiap kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba yang memohon kepada-Nya dan tidak akan mengecewakan orang beriman yang memanggil-Nya.
3. Bersungguh-sungguh menuntut ilmu
Ilmu akan mengarahkan seseorang kepada kemuliaan akhlak dan keutamaan, serta menjadi penghalang dari perbuatan hina dan dosa besar.
4. Tekun beribadah kepada Allah, terutama ibadah wajib
Di antara ibadah yang paling penting adalah shalat, karena shalat mampu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.
5. Menghiasi diri dengan akhlak mulia
Seorang muslim hendaknya menghias dirinya dengan akhlak yang luhur serta menjauhkan diri dari akhlak yang rendah dan tercela.
6. Bergaul dengan orang-orang saleh
Berkumpul bersama orang-orang baik dan saleh sangat penting, karena majelis mereka dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat Allah. Sebaliknya, hendaknya berhati-hati dari majelis orang-orang yang buruk, karena majelis tersebut menjadi tempat turunnya godaan setan.
7. Memberi nasihat kepada sesama manusia
Ketika berinteraksi dengan orang lain, hendaknya seorang muslim mengajak mereka kepada kebaikan dan menjauhkan mereka dari keburukan.
8. Mengingat hari akhir
Seorang hamba hendaknya selalu mengingat bahwa kelak ia akan berdiri di hadapan Allah Rabb semesta alam, yang akan membalas setiap amal.
Allah berfirman:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan keburukan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
9. Memiliki keinginan kuat untuk berbuat baik dan memberi manfaat
Pokok dari semua itu adalah keinginan yang kuat untuk melakukan kebaikan dan memberi manfaat kepada manusia. Jika keinginan tersebut disertai niat yang tulus, tekad yang kuat, serta meminta pertolongan kepada Allah dan menempuh jalan yang benar, maka insyaAllah seseorang akan menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup keburukan.
Pada akhirnya, Allah-lah yang memberi taufik kepada hamba-hamba-Nya dan membuka pintu-pintu kebenaran bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pertolongan.
Artikel ditulis oleh Zaky Basyarahil, Lc.
Mudir Pesantren Tahfizh Sabilul Qur’an | Pesantren Terpadu Berbasis Tahfizh Qur’an
Pesantren Tahfizh Sabilul Qur’an Hadir Sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang Berkomitmen Mencetak Generasi Qur’ani yang Berkarakter